Selasa, 03 Januari 2012

Laporan Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak


Laporan Praktikum
Ilmu Nutrisi Ternak
OLEH
Nama     : Marton T. Yusuf
NIM      : 621 410 063
Kelas      : C


UNIVERSITAS NEGERI  GORONTALO
FAKULTAS ILMI-ILMU PERTANIAN
JURUSAN TEKNOLOGI PETERNAKAN


Laporan Praktikum
Ilmu Nutrisi Ternak

a. Dasar Teori
      Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di dalamnya.
b. Tujuan
Dalam melakukan praktikum ini kami memiliki beberapa tujuan yaitu :
·      Praktikum ini memiliki tujuan untuk mengetahui kandungan zat makanan dari bahan pakan yang akan diuji.
·      Praktikum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan praktikan dalam menganalisis proksimat baik meliputi pengetahuan dasar dan aplikasinya.
C. Prosedur Kerja
1. Penentuan Kadar Air

a. Prinsip
           Menguapkan air yang terdapat dalam bahan dengan oven dengan suhu 100°-105°C dalam jangka waktu tertentu (3-24 jam) hingga seluruh air yang terdapat dalam bahan menguap atau penyusutan berat bahan tidak berubah lagi.

b. Alat dan Bahan

·      Oven listrik                                                            
·      Timbangan analitik
·      Cawan aluminium
·      Eksikator
·      Tang penjepit

c. Prosedur
·      Keringkan cawan aluminium dalam oven selama 1 jam pada suhu 100°-105°C
·      Kemudian dinginkan dalam eksikator selama 15 menit dan timbang beratnya (catat sebagai A gram)
·      Tambahkan ke dalam cawan aluminium tersebut sejumlah sample/bahan lebih kurang 2-5 gram, timbang dengan teliti. Dengan demikian berat bahan/sample dapat diketahui dengan tepat (catat sebagai B gram). Bila menggunakan timbangan analitik digital maka dapat diketahui berat sampelnya dengan menset zero balans, yaitu setelah berat aluminium diketahui beratnya dan telah dicatat, kemudian dizerokan sehingga penunjuk angka menjadi nol, lalu sampel langsung dimasukkan ke dalam cawan dan kemudian timbang beratnya dan catat sebagai C gram.
·      Masukkan cawan+sampel ke dalam oven selama 3 jam pada suhu 100°-105°C sehingga seluruh air menguap. (Atau dapat pula dimasukkan dalam oven dengan suhu 60°C selam 48 jam)
·      Masukkan dalam eksikator selama 15 menit dan timbang. Ulangi pekerjaan ini dari tahap no 4 dan 5, sampai beratnya tidak berubah lagi. Catat sebagai B gram.
   Setiap kali memindahkan cawan aluminium baik berisi sampel gunakan tang.

2. Penentuan Kadar Abu

a. Prinsip
          Membakar bahan dalam tanur (furnace) dengan suhu 600°C selama 3-8 jam sehingga seluruh unsur pertama pembentuk senyawa organik (C,H,O,N) habis terbakar dan berubah menjadi gas. Sisanya yang tidak terbakar adalah abu yang merupakan kumpulan dari mineral-mineral yang terdapat dalam bahan. Dengan perkataan lain, abu merupakan total mineral dalam bahan.

b. Alat dan Bahan
·         Cawan porselen 30 mL
·         Pembakar bunsen atau hot plate
·         Tanur listrik
·         Eksikator
·         Tang penjepit

c. Prosedur
·      Keringkan cawan porselen ke dalam oven selama 1 jam pada suhu 100°-105°C.
·      Dinginkan dalam eksikator selama 15 menit dan timbang, catat sebagai A gram
·      Masukkan sejumlah sampel kering oven 2-5 gram ke dalam cawan, catat sebagai B gram
·      Panaskan dengan hot plate atau pembakar bunsen sampai tidak berasap lagi
·      Masukkan ke dalam tanur listrik dengan temperatur 600-700°C, biarkan beberapa lama sampai bahan berubah menjadi abu putih betul. Lama pembakaran sekitar 3-6 jam
·      Dinginkan dalam eksikator kurang lebih 30 menit dan timbang dengan teliti, catat sebagai C gram
·      Hitung kadar abunya!

3. Penentuan Kadar Protein Kasar

a. Prinsip
         Penetapan nilai protein kasar dilakukan secara tidak langsung, karena analisis ini didasarkan pada penentuan kadar nitrogen yang terdapat dalam bahan. Kandungan nitrogen yang diperoleh dikalikan dengan angka 6,25 sebagai angka konversi menjadi nilai protein. Nilai 6,25 diperoleh dari asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen(perbandingan protein : nitrogen =100 :16 = 6,25:1).
Penentuan nitrogen dalam analisis ini melalui tiga tahapan analis kimia:

Destruksi
       Yaitu menghancurkan bahan menjadi komponen sederhana, sehingga nitrogen dalam bahan terurai dari ikatan organiknya. Nitrogen yang terpisah diikat oleh H2SO4 menjadi (NH4)2SO4.

Destilasi
        Pengikatan komponen organik tidak hanya kepada nitrogen saja, tetapi juga terhadap komponen lain, oleh karena itu nitrogen harus diisolasi. Untuk melepaskan nitrogen dalam larutan hasil destruksi adalah dengan membentuk gas NH3. Pemberian NaOH 40% akan merubah (NH4)2SO4 menjadi NH4OH. NH4OH bila dipanaskan akan berubah menjadi gas NH3 dan air, yang kemudian dikondensasi. NH3 akhirnya ditangkap oleh larutan asam borat 5% membentuk (NH4)3BO3.

Titrasi
       Nitrogen dalam (NH4)3BO3 ditentukan jumlahnya dengan cara dititrasi dengan HCl.

b. Alat dan Bahan
Alat :
·         Labu Kjeldahl 300 mL
·         Satu set alat estilasi
·         Erlenmeyer 250 cc
·         Buret 50 cc skala 0,1 mL
·         Timbangan analiti

Bahan ( zat kimia) :
·         Asam Sulfat pekat
·         Asam Chorida ( yang sudah diketahui normalitasnya)
·         Natrium Hydroxsida 40%
·         Katalis campuran (yang dibuat dari CuSO4.5H2O dan K2SO4 dengan perbandingan 1:5
·         Asam borax 5%
·         Indikator campuran ( brom cresolgreen : Methyl merah = 4 : 5. sebanyak 0,9 gram campuran dilarutkan dalam alkohol 100 mL)

c. Prosedur

1. Destruksi
·         Timbang contoh sampel kering oven sebanyak ± 1 gram ( catat sebagai A gram).
·          Masukan ke dalam labu kjeldhal dengan hati-hati, dan tambahkan 6 gram katalis campuran.
·         Tambah 20 mL Asam Sulfat pekat.
·         Panaskan dalam nyala api kecil di lemari asam. Bila sudah tidak berbuih lagi destruksi diteruskan dengan nyala api yang besar.
·         Destruksi sudah di anggap selesai bila larutan sudah berwarna hijau jernih, setelah itu dinginkan.

Destilasi
·         Siapkan alat destilasi selengkapnya, pasang dengan hati-hati jangan lupa batu didih, vaselin dan tali pengaman
·         Pindahkan larutan hasil destruksi ke dalam labu didih, kemudian bilas dengan aquades sebanyak lebih kurang 50 mL.
·         Pasangkan erlenmeyer yang telah diisi asam borax 5% sebanyak 5 mL untuk menangkap gas amonia, dan telah diberi indikator campuran sebanyak 2 tetes.
·         Basakan larutan bahan dari destruksi dengan menambah 40-60 mL NaOH 40% melalui corong samping. Tutup kran corong segera setelah larutan tersebut masuk ke labu didih
·         Nyalakan pemanas bonsen dan alirkan air ke dalam kran pendingin tegak.
·         Lakukan destilasi sampai semua N dalam larutan dianggap telah tertangkap oleh asam borax yang ditandai dengan menyusutnya larutan dalam labu didih sebanyak 2/3 bagian (atau sekurang-kurangnya sudah tertampung dalam erlenmeyer sebanyak 15 mL



Titrasi
·         Erlenmeyer berisi sulingan tadi diambil (jangan lpa membilas bagian yang terendam dalam air sulingan)
·         Kemudian titrasi dengan HCl yang sudah diketahui normalitasnya catat sebagai B, titik titrasi dicapai dengan ditandai perubahan warna hijau ke abu-abu. Catat jumlah larutan HCl yang terpakai sebagai C mL

4. Penentuan Kadar Lemak Kasar

a.Prinsip
          Melarutkan (ekstraksi) lemak yang terdapat dalam bahan dengan pelaut lemak (ether) selama 3-8 jam. Ekstraksi menggunakan alat sokhlet. Beberapa pelarut yang dapat digunakan adalah kloroform, heksana, dan aseton. Lemak yang terekstraksi (larut dalm pelarut) terakumulasi dalam wadah pelarut (labu sokhlet) kemudian dipisahkan dari pelarutnya dengan cara dipanaskan dalam oven suhu 105°C. Pelarut akan menguap sedangkan lemak tidak (titik didih lemak lebih besar dari 105°C, sehingga tidak menguap dan tinggal di dalam wadah). Lemak yang tinggal dalam wadah ditentukan beratnya.

b. Alat dan Bahan
Alat :
·         Satu set alat sokhlet
·         Kertas saring bebas lemak
·         Kapas dan biji hekter
·          Eksikator
·         Timbangan analitik

Bahan (zat kimia) :
·         Kloroform


c.Prosedur

·         Siapkan kertas saring yang elah kering oven (gunakan kertas saring bebas lemak)
·         Buatlah selongsong penyaring yang dibuat dari kertas saring, timbang dan catat beratnya sebagai A gram. Masukkan sampel sekitar 2-5 gram dalam selongsong kemudian timbang dan catat beratnya sebagai B gram. Tutup dengan kapas kemudian dihekter, lalu timbang dan catat beratnya sebagai C gram. Berat sampel = (B-A) gram
·         Selongsong penyaring berisi sampel dimasukkan ke dalam alat soxhlet. Masukan pelarut lemak (Klorofom) sebanyak 100-200 mL ke dalam labu didihnya. Lakukan ekktarksi (yalakan pemanas hot plate dan alirkan air pada bagian kondensornya).
·         Ekstrasi dilakukan selama lebih kurang 6 jam. Ambil selongsong yang berisi sampel yang telah diekstrasi dan keringkan di dalam oven selama 1 jam pada suhu 1050 . kemudian masukan ke dalam eksikator 15 menit dan kemudian timbang dan catat beratnya sebagai D gram.
·         Kloroform yang terdapat dalam labu didih, didestilasi sehingga tertampung di penampungan sokhlet. Kloroform yang tertampung disimpan untuk digunakan kembali.

5. Penentuan Kadar Serat Kasar

a. Prinsip
         Komponen dalam suatu bahan yang tidak dapat larut dalam pemasakan dengan asam encer dan basa encer selama 30 menit adalah serat kasar dan abu. Untuk mendapatkan nilai serat kasar, maka bagian yang tidak larut tersebut (residu) dibakar sesuai dengan prosedur analisis abu. Selisih antara residu dengan abu adalah serat kasar.

b. Alat dan bahan
Alat :
·         Gelas piala khusus 600 mL
·         Cawan porselen 30 mL
·         Corong Buchner diameter 4,5 cm
·          Satu set alat pompa vakum
·          Eksikator
·         Kertas saring bebas abu
·          Tanur listrik
·         Hot plate
·         Tang penjepit
·         Timbangan analitik\

Bahan (zat kimia) :
·         H2SO4 1,25 %
·         NaOH 1,25 %
·         Aseton
·         Aquades panas


c. Prosedur

·         Siapkan kertas saring kering oven dengan diameter 4,5 cm, catat sebagai A gram
·         Siapkan cawan porselen kering oven
·         Masukkan sampel ke dalam gelas piala khusus sebanyak B gram
·         Tambah asam sulfat 1,25 % sebanyak 100 mL kemudian pasang pada alat pemanas khusus tepat di bawah kondensor
·         Alirkan airnya dan nyalakan pemanas tersebut
·         Didihkan selama 30 menit dihitung saat mulai mendidih
·         Kemudian tambahkan NaOH 1,25 % sebanyak 100 mL
·         Didihkan selama 30 menit lagi dihitung saat mulai mendidih
·         Letakkan kertas saring pada corong buchner kemudian masukkan residu dan nyalakan pompa vacuum
·         Secara berturut-turut bilas dengan :
-Air panas 100 mL
-Aseton 50 mL
·         Kertas saring dan isinya dimasukkan ke dalam cawan porselen menggunakan pinset
·          Keringkan dalam oven 100-105°C selama ± 24 jam
·          Dinginkan dalam eksikator selama 15 menit lalu timbang sebagai C gra
·          Panaskan dalam hot plate sampai tidak berasap lagi, kemudian masukkan ke dalam tanur listrik 600°C-700°C selama minimal 3 jam sampai abunya berwarna putih. Disini serat kasar dibakar sampai habis
·         Dinginkan dalam eksikator selama 30 menit lalu timbang dan catat sebagai D gram

d. Pembahasan
          Menurut kamal (1998) disebut analisis proksimat karena hasil yang diperoleh hanya mendekati nilai yang sebenarnya, oleh karena itu untuk menunjukkan nilai dari system analisis proksimat selalu dilengkapi dengan istilah minimum atau maksimum sesuai dengan manfaat fraksi tersebut. Dari sisitem analisis proksimat dapat diketahui adanya 6 macam fraksi yaitu:1). Air, 2). Abu, 3). Protein kasar, 4). Lemak kasar (ekstrak ether), 5). Serat kasar, 6). Ekstrak Tanpa Nitrogen (ETN). Khusus untuk ETN nilainya dicari hanya berdasarkan perhitungan yaitu: 100% dikurangi jumlah dari kelima fraksi yang lain. Cara ini dikembangkan dari Weende experiment station di Jerman oleh Henneberg dan Stocman pada tahun 1865, yaitu suatu metode analisis yang menggolongkan komponen yang ada pada makanan. Cara ini dipakai hampir di seluruh dunia dan disebut “analisis proksimat”. Analisis ini didasarkan atas komposisi susunan kimia dan kegunaannya (Tilman et al., 1998).

1. Air
          Yang dimaksud air dalam analisis proksimat adalah semua cairan yang menguap pada pemanasan dalam beberapa waktu pada suhu 1050-1100C dengan tekanan udara bebas sampai sisa yang tidak menguap mempunyai bobot tetap. Penentuan kandungan kadar air dari suatu bahan sebetulnya bertujuan untuk menentukan kadar bahan kering dari bahan tersebut (Kamal, 1998).

          Sampel makanan ditimbang dan diletakkan dalam cawan khusus dan dipanaskan dalam oven dengan suhu 1050C. Pemanasan berjalan hingga sampel tidak turun lagi beratnya. Setelah pemanasan tersebut sampel bahan pakan disebut sebagai sampel bahan kering dan penggunaanya dengan sampel disebut kadar air (Tillman et al., 1998).

         Hijauan pakan segar berkadar air sangat tinggi, setelah dikeringkan 550C sampai beratnya tetap diperoleh bahan pakan dalam kondisi kering udara disebut juga berat kering, kering udara atau dry weight. Bahan pakan konsentrat pada umumnya berada pada kondisi kering udara dan sering disebut kondisi as fed (keadaan apa adanya) (Utomo dan Soejono,1999).

2. Abu
        Yang dimaksud abu adalah sisa pembakaran sempurna dari suatu bahan. Suatu bahan apabila dibakar sempurna pada suhu 500-600ÂșC selama beberapa waktu maka semua senyawa organiknya akan terbakar menjadi CO2, H2O dan gas lain yang menguap, sedang sisanya yang tidak menguap inilah yang disebut abu atau campuran dari berbagai oksida mineral sesuai dengan macam mineral yang terkandung di dalam bahannya. Mineral yang terdapat pada abu dapat juga berasal dari senyawa organik musalnya fosfor yang berasal dari dari protein dan sebagainya. Disamping itu adapula mineral yang dapat menguap sewaktu pembakaran, misalnya Na (Natrium), Cl (Klor), F (Fosfor), dan S (Belerang), oleh karena itu abu tidak dapat untuk menunjukan adanya zat anorganik didalam pakan secara tepat baik secara kualitatif maupun kwantitatif (Kamal, 1998).

          Penetuan kadar abu berguna untuk menentukan kadar ekstrak tanpa nitrogen. Disamping itu kadar abu dari pakan yang berasal dari hewan dan ikan dapat digunakan sebagai indek untuk kadar Ca (Kalsium) dan P (Fofsor), juga merupakan tahap awal penentuan berbagai mineral yang lain (Kamal,1998).


3. Protein Kasar
          Protein kasar adalah nilai hasil bagi dari total nitrogen ammonia dengan faktor 16% (16/100) atau hasil kali dari total nitrogen ammonia dengan faktor 6,25 (100/16). Faktor 16% berasal dari asumsi bahwa protein mengandung nitrogen 16%. Kenyataannya nitrogen yang terdapat di dalam pakan tidak hanya berasal dari protein saja tetapi ada juga nitrogen yang berasal dari senyawa bukan protein atau nitrogen nonprotein (non–protein nitrogen /NPN). Dengan demikian maka nilai yang diperoleh dari perhitungan diatas merupakan nilai dari apa yang disebut protein kasar (Kamal,1998).

4. Serat Kasar
          Serat kasar adalah bagian dari pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh bahan-bahan kimia yang digunakan untuk menentukan kadar serat kasar yaitu asam sulfat (H2SO4 1,25%) dan natrium hidroksida (NaOH 1,25%). Piliang dan Djojosoebagio mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan serat kasar ialah sisa bahan makanan yang telah mengalami proses pemanasan dengan asam kuat dan basa kuat selama 30 menit yang dilakukan di laboratorium. Dengan proses seperti ini dapat merusak beberapa macam serat yang tidak dapat dicerna oleh manusia dan tidak dapat diketahui komposisi kimia tiap-tiap bahan yang mengandung dinding sel.

5. Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen
         Ekstrak Tanpa Nitrogen dalam arti umum adalah sekelompok karbohidrat yang kecernaannya tinggi, sedangkan dalm analisis proksimat yang dimaksud Ekstrak Tanpa Nitrogen adalah sekelompok karbohidrat yang mudah larut dengan perebusan menggunakan asam sulfat 1,25% atau 0,255 N dan perebusan dengan menggunakan larutan NaOH 1,25% atau 0,313 N yang berurutan masing-masing selama 30 menit. Walaupun demikian untuk penentuan kadar Ekstrak Tanpa Nitrogen hanya berdasarkan perhitungan 100%- (%air+%abu+%serat kasar+%protein kasar+%lemak kasar). Ekstrak Tanpa Nitrogen dipengaruhi oleh kandungan nutient lainnya yaitu protein kasar, air, abu, lemak kasar dan serat kasar (Kamal, 1998).






e. Kesimpulan

          Protein, karbohidrat, dan air merupakan kandungan utama dalam bahan pangan. Protein dibutuhkan terutama untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga
         merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup. Lemak yang dioksidasi secara sempurna dalam tubuh menghasilkan 9,3 kalori/g lemak, sedangkan protein dan karbohidrat masing-masing menghasilkan 4,1 dan 4,2 kalori/g.
Minyak dan lemak terdiri atas trigliserida campuran, yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantaipanjang. Minyak dan lemak dapat diperoleh dari hewan maupun tumbuhan. Minyak nabati terdapat dalam buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, akar tanaman, dan sayuran. Trigliserida dapat berwujud padat atau cair, bergantung pada komposisi asam lemak yang menyusunnya. Sebagian besar minyak nabati berbentuk cair karena mengandung sejumlah asam lemak tidak jenuh, sedangkan lemak hewani pada umumnya berbentuk padat pada suhu kamar karena banyak mengandung asam lemak jenuh.
          Kacang-kacangan (Leguminoceae) merupakan bahan pangan yang kaya akan protein dan lemak. Agar asam-asam lemak dalam kacang-kacangan dapat ditentukan, terlebih dahulu dilakukan ekstraksi minyak dan lemak antara lainekstraksi dengan pelarut (solvent extraction) menggunakan heksan dan seperangkat soklet. Selanjutnya dilakukan esterifikasi untuk mengubah asam-asam lemak trigliserida menjadi bentuk ester. Pengubahan bentuk ini dilakukan untuk mengubah bahan yang nonvolatil menjadi volatil.
           Untuk menentukan jenis asam lemaknya dapat digunakan kromatografi gas. Pemisahan akan terjadi untuk setiap komponen asam lemak yang terdapat pada kacang-kacangan mengikuti ukuran panjang rantai asam lemak, dari yang terkecil sampai yang terbesar yang dibawa oleh fase gerak yang digunakan (H2,N2 dan O2).






DAFTAR PUSTAKA

·         Kamal, M. 1998. Nutrisi Ternak I. Rangkuman. Lab. Makanan Ternak, jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, UGM. Yogyakarta.

·         Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawiro Kusuma, dan S. Lebdosoekoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

·         Utomo, R dan Soedjono, M. 1999. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.

1 komentar:

  1. Maaf bro,, hasil pengamatannya nga ad' soalnya laborotorium kita di makan api...

    BalasHapus